Puasa dalam ketentuan syariat adalah menahan diri dari makan, minum, dan besetubuh, sejak masuk Subuh hingga masuk waktu Maghrib. Sedangkan puasa dari segi ruhani bermakna membersihkan semua pancaindra dan pikiran dari hal-hal yang haram, selain menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkannya yang telah di tetapkan dalam puasa syariat. Dalam puasa harus di usahakan ke duanya berpadu secara harmonis.
Puasa dari segi ruhani akan batal, bila niat dan tujuannya tergelincir kepada sesuatu yang haram, walau hanya sedikit. Puasa syariat berkait dengan waktu, tetapi puasa ruhani tidak pernah mengenal waktu, terus menerus dan berlangsung sepanjang hayat di dunia dan di akhirat. Inilah puasa yang hakiki, seperti yang di kenal oleh orang yang hati dan jiwanya bersih. Puasa adalah pembersihan di atas pembersihan
Puasa tidak bermakna kalau tidak membawa pelakunya kepada kedekatan kepada allah. Orang awam akan cepat berbuka begitu waktu tiba. Tetapi orang yang ruhaninya ikut berpuasa, tidak akan pernah berhenti berpuasa, walau secara fisik ia berbuka sebagaimana orang lain.
Jika orang awam merasakan kebahagiaan berpuasa pada saat berbuka, dan pada saat melihat datangnya bulan Syawal, setelah satu bulan berpuasa penuh, maka lain bagi orang yang arif. Orang yang telah bermakrifat lebih mengutamakan dimensi spiritual. Ia akan menganggap kenikmatan berbuka adalah pada waktu kelak ia memasuki taman surga dan menikmati segala hal di dalamnya. Sedangkan maksud kenikmatan ketika melihat, adalah kenikmatan yang di peroleh bila mereka dapat melihat allah dengan mata hati, sebagai salah satu efek dari puasanya.
Namun masih ada jenis puasa yang lebih tinggi, yakni puasa yang hakiki atau puasa yang sebenarnya. Puasa ini memiliki martabat yang lebih bagus dari kedua puasa di atas. Puasa ini adalah puasa dengan menahan hati dari menyembah, memuji, memuja, mencari yang ghairullah(yang selain Allah). Puasa ini di lakukan dengan cara menahan mata hati dari memandang ghairullah, baik yang lahir maupun yang bathin. Namun walau seseorang telah sampai kepada thapan puasa yang hakiki, puasa wajib tetap di butuhkan sebagai aplikasi syariatnya.
Dalam puasa hakiki, hati di butakan dari pandangan terhadap ghairullah dan tertuju hanya kepada Allah serta cinta kepadaNya. Dengan puasa hakiki inilah esensi penciptaan akan terkuak. Manusia adalah rahasia Allah dan Allah rahasia bagi manusia. Rahasia itu berupa nur Allah. Nur itu adalah titik tengah(centre) hati yang di ciptakan dari sesuatu yang unik dan gaib. Hanya ruh yang tahu semua rahasia itu. Ruh juga menjadi penghubung rahasia antara khaliq dan makhluk. Rahasia itu tidak tertarik dan tidak pernah menaruh cinta kepada selain allah. Dengan puasa hakiki, ruh itu di aktifkan. Oleh karenanya jika ada setitik dzarrah pun cinta terhadap ghairullah, batallah puasa hakiki. Jika puasa hakiki batal, maka kita mengulanginya, menyalakan kembali niat dan harapan kepada Allah di dunia dan akhirat.
Dengan puasa hakiki, maka kita akan menyadari bahwa sebenarnya puasa adalah hadiah Allah untuk umat manusia. Sehingga bagi hamba Allah yang telah mencapai makrifat, akhirnya puasa wajib dan sunnah bukanlah berbeda. Secara lahiriah, keduanya memang berbeda dari segi waktu dan cara pelaksanaan, akan tetapi secara batiniah, esensi kedua jenis puasa itu tidak berbeda. Dengan berpuasa secara hakiki, tidak sekat wajib atau sunnah lagi, yang ada adalah menikmati hadiah dari Allah bagi ruhani kita.
Sehingga pemahaman dan pelaksanaan puasa yang seperti itu, maka akhirnya puasa tersebut akan menjadi katalisator bagi hawa nafsu kita, dan hati akan semakin berkilau oleh bilasan nurulla. Ia akan menjadi motor penggerak bagi ruh al-idhafi, sebagai efek kebeningan hatinya, yang dengan itulah seluruh kehidupan akan di tujukan menuju ke arah al-haqq, Ilahi rabbi.
01 Maret 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar